Welcome to Page of International Pecak Silat Executive Tutorial Program
"PENCAK SILAT CINGKRIG GONING"
Do you remember Pitung? The exploits of this Betawi rebel
leader of the past have been portrayed through a film starring Dicky
Zulkarnaen. Although many people certainly know about this heartbreaker, not
many know about Cingkrik.
Cingkrik is one of the Betawi silat styles. Because many of
the movements in this style emphasize jumping with one leg (Jejingkrikan in
Betawi language), the style is referred to as Jingkrik or Cingkrik and is
believed to be the fighting style of the rebel fighter Pitung.
During its development, Silat Cingkrik branched into several
different styles, which have taken on the name of the individual teaching each
particular system.
At this time there are two Cingkrik systems: Cingkrik Sinan and Cingkrik Goning.
It is said that the difference between these two styles is that Cingkrik Sinan not only teaches fighting techniques, but also inner power (in the Indonesian language: tenaga dalam). Meanwhile, the Goning system relies only on physical techniques.
At this time there are two Cingkrik systems: Cingkrik Sinan and Cingkrik Goning.
It is said that the difference between these two styles is that Cingkrik Sinan not only teaches fighting techniques, but also inner power (in the Indonesian language: tenaga dalam). Meanwhile, the Goning system relies only on physical techniques.
"This then, is one of the advantages of our system which can
be learned by all people," says Tubagus Bambang Sudrajat, age 52, inheritor of
the Cingkrik Goning silat system.
Engkong Goning, whose original name was Ainin bin Urim, was
the person who established this particular style. Engkong, who was born in 1895
and died in 1975, taught his style of fighting to several people in the Jakarta
neighborhoods of Rawa Belong, Kebon Jeruk, and Jembatan Dua in Harmoni.
One of Engkong's students was Usup Utai, who continued to
develop this style of silat in the area of Grogol. Before his death in 1993,
Usup Utai passed on his knowledge to Bambang Sudrajat, who is now preserving
it.
One unique characteristic of Silat Cingrik Goning, according
to H. Nizam, a student of this style, is the use of one leg to deliver a deadly
kick.
"The hands wait on the enemy's attack," he says. Then, as the
opponent falls, he is finished off with a kick.
Apart from this, silat Cingkrik Goning relies on speed.
Apart from this, silat Cingkrik Goning relies on speed.
"Unlike other styles, the techniques' steps are not counted
out slowly," he says. When an attack is delivered, the response must come
instantly and braak (wham): the opponent must fall to the ground.
The number of throwing techniques is another advantage of Silat Cingkrik Goning. Counting them all, there are around 80 techniques for throwing All of which can be learned if one is patient and diligent enough to reach the higher levels of study in this system.
The number of throwing techniques is another advantage of Silat Cingkrik Goning. Counting them all, there are around 80 techniques for throwing All of which can be learned if one is patient and diligent enough to reach the higher levels of study in this system.
As a member of IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), Cingkrik
Goning has a level system using colored belts. From absolute beginner to red
belt requires a maximum of seven years. During this time the student is only
taught techniques derived from jurus (forms), which are used to resist incoming
attacks. Afterwards, the student learns throwing techniques by working with a
partner who will attack him. This phase is called sambut (answering).
In the last phase of training, techniques for attack are
taught. This phase of the training is referred to as "Jual-Beli" (buying and
selling). At this phase, students are taught both how to attack and respond to
a possible counter-attack. "So, when we attack, we win," said Bambang.
Training in Cingkrik Goning is offered at the Padepoekan
Pencak Silat in Pondok Gede. They train there every Saturday evening. Training
is also available in Bekasi.
Two months ago, shocking news arrived from Holland. An
Indonesian citizen named Herry Masfar, who now lives in Amsterdam, confessed
that he had studied silat Cingkrik Goning.
Masfar said that he had studied Cingkrik Goning from a silat
teacher named Rochimin, who was possibly a student of
Engkong in the area of
Kebon Jeruk in the 1950's.
Since the 1960's, Masfar has been living in Amsterdam and
began teaching his silat knowledge. He has even taught marines at the Dutch
marine education center in Den Helder. He is planning to come to Indonesia this
December to learn Cingrik Goning from the original source in Jakarta. If the
Dutch marines are interested in learning this knowledge, why aren't we? Source: Amal - Bambang: TEMPO
Les Privat Eksekutif Pencak
Silat Cinkrik Goning
Peserta, Dewasa dan Anak-Anak
Lokasi Tempat Les Privat: Di Tempat Kami, di Tempat Anda
Durasi : minimal 1 Bulan = 8 x pertemuan
Biaya Rendaftaran : Rp.250.000,-
Biaya Program Rp.2.000.000,- Discount 25% = Rp.1.500.000,- / bulan
- Waktu dan tempat bisa disesuaikan dengan kebutuhan siswa
- Instruktur datang ke tempat Anda atau Anda datang ke tempat instruktur
Harap Mengisi Formulir.
For registration please contact:
Regards, Mr. Ku Shuma San : 021-959-77-155, 0812-108-7584
GM of Winstitute International Jakarta
http://winstitute.blinkweb.com, http://www.dnd-biz.blogspot.com
Peserta, Dewasa dan Anak-Anak
Lokasi Tempat Les Privat: Di Tempat Kami, di Tempat Anda
Durasi : minimal 1 Bulan = 8 x pertemuan
Biaya Rendaftaran : Rp.250.000,-
Biaya Program Rp.2.000.000,- Discount 25% = Rp.1.500.000,- / bulan
- Waktu dan tempat bisa disesuaikan dengan kebutuhan siswa
- Instruktur datang ke tempat Anda atau Anda datang ke tempat instruktur
Harap Mengisi Formulir.
For registration please contact:
Regards, Mr. Ku Shuma San : 021-959-77-155, 0812-108-7584
GM of Winstitute International Jakarta
http://winstitute.blinkweb.com, http://www.dnd-biz.blogspot.com
TOPIK LES PRIVAT :
%u201CPENCAK SILAT CINGKRIG GONING%u201C
Ingat Si Pitung? Tokoh jagoan Betawi tempo dulu itu pernah ngetop lewat film yang dibintangi aktor laga Dicky Zulkarnaen. Kalau banyak orang mengenal perampok baik hati itu, sebaliknya tak banyak yang tahu apa itu Cingkrik.
Cingkrik merupakan salah satu aliran silat Betawi. Karena beberapa gerakan utama dalam aliran silat ini adalah berlompatan dengan satu kaki (orang Betawi menyebutnya Jejingkrikan), silat ini disebut Jingkrik atau Cingkrik. Cingkrik inilah yang dipercaya menjadi "mainan" Si Pitung. Dalam perkembangannya, Cingkrik terpisah jadi beberapa aliran yang namanya diciptakan oleh orang yang mengajarkannya. Sampai saat ini ada dua aliran Cingkrik, yakni Cingkrik Sinan dan Cingkrik Goning.
Perbedaan utama kedua aliran tersebut adalah Sinan tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga tenaga dalam. Sedangkan Goning mengandalkan aplikasi teknik fisik semata. "Ini menjadi salah satu kelebihan aliran kami, yakni bisa dipelajari oleh semua orang," kata Tubagus Bambang Sudrajat, 52 tahun, ahli waris aliran Cingkrik Goning.
Adalah Engkong Goning, bernama asli Ainin bin Urim, yang mendirikan aliran ini. Engkong, lahir pada 1895 dan wafat pada 1975, mengajarkan ilmu silat Goning kepada beberapa orang di Rawa Belong, Kebon Jeruk, dan Jembatan Dua, Harmoni.
Salah satu murid Engkong adalah Usup Utai, yang mengembangkan aliran silat ini ke daerah Grogol. Usup Utai, sebelum meninggal pada 1993, mewariskan ajaran itu kepada Bambang Sudrajat, yang elestarikannya sampai sekarang.
Ciri khas aliran Goning, menurut H. Nizam, salah satu murid Cingkrik Goning, adalah menggunakan satu kaki sebagai tendangan pamungkas. "Tangan digunakan untuk meladeni serangan lawan," katanya. Begitu lawan jatuh, diselesaikan dengan tendangan kaki.
Selain itu, Cingkrik Goning sangat mengandalkan kecepatan. "Tidak ada hitungan gerakan lambat seperti di aliran lain," katanya. Begitu menerima serangan, dalam hitungan detik harus dilakukan balasan dan braak, lawan sudah harus jatuh ke tanah.
Teknik bantingan menjadi kelebihan lain dari aliran silat Goning. Dihitung-hitung ada sekitar 80 teknik bantingan yang bisa dikuasai jika ditekuni hingga tingkatan tertinggi.
Sebagai anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Cingkrik Goning mengaplikasi sistem tingkatan. Mulai dari awal belajar sampai mendapat abuk merah, memakan waktu maksimal 7 tahun. Selama itu murid hanya diajari teknik jurus untuk menerima serangan. Setelah itu, baru belajar teknik bantingan secara berpasangan yang disebut "Sambut".
Pada tingkatan terakhir barulah diajarkan teknik serangan yang disebut "jual-beli". Pada level ini murid diajarkan menyerang dan melakukan balasan terhadap serangan balik lawan. "Jadi kita yang menyerang, kita yang menang," kata Bambang.
Selain di Bekasi, pusat latihan Cingkrik Goning ada di Padepokan Pencak Silat Indonesia di Pondok Gede. Mereka berlatih tiap Sabtu sore. Dua bulan lalu, kabar mengejutkan datang dari Belanda. Seorang Indonesia bernama Herry Masfar, yang sekarang tinggal di Amsterdam, mengaku pernah belajar Cingkrik Goning.
Masfar mengaku belajar Cingkrik Goning dari guru silat bernama Rochimin, yang mungkin adalah murid Engkong di daerah Kebon Jeruk sekitar 1950-an. Sejak 1960-an, Masfar tinggal di Amsterdam dan mulai mengajarkan ilmu silatnya, termasuk kepada pasukan marinir di pusat pendidikan marinir Belanda di Den Helder.
Rencananya, Desember ini, mereka akan datang untuk belajar dari sumber asli Cingkrik Goning di Indonesia. Kalau marinir Belanda tertarik belajar ilmu silat ini, mengapa kita tidak? Sumber: AMAL IHSAN - TEMPO
%u201CPENCAK SILAT CINGKRIG GONING%u201C
Ingat Si Pitung? Tokoh jagoan Betawi tempo dulu itu pernah ngetop lewat film yang dibintangi aktor laga Dicky Zulkarnaen. Kalau banyak orang mengenal perampok baik hati itu, sebaliknya tak banyak yang tahu apa itu Cingkrik.
Cingkrik merupakan salah satu aliran silat Betawi. Karena beberapa gerakan utama dalam aliran silat ini adalah berlompatan dengan satu kaki (orang Betawi menyebutnya Jejingkrikan), silat ini disebut Jingkrik atau Cingkrik. Cingkrik inilah yang dipercaya menjadi "mainan" Si Pitung. Dalam perkembangannya, Cingkrik terpisah jadi beberapa aliran yang namanya diciptakan oleh orang yang mengajarkannya. Sampai saat ini ada dua aliran Cingkrik, yakni Cingkrik Sinan dan Cingkrik Goning.
Perbedaan utama kedua aliran tersebut adalah Sinan tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga tenaga dalam. Sedangkan Goning mengandalkan aplikasi teknik fisik semata. "Ini menjadi salah satu kelebihan aliran kami, yakni bisa dipelajari oleh semua orang," kata Tubagus Bambang Sudrajat, 52 tahun, ahli waris aliran Cingkrik Goning.
Adalah Engkong Goning, bernama asli Ainin bin Urim, yang mendirikan aliran ini. Engkong, lahir pada 1895 dan wafat pada 1975, mengajarkan ilmu silat Goning kepada beberapa orang di Rawa Belong, Kebon Jeruk, dan Jembatan Dua, Harmoni.
Salah satu murid Engkong adalah Usup Utai, yang mengembangkan aliran silat ini ke daerah Grogol. Usup Utai, sebelum meninggal pada 1993, mewariskan ajaran itu kepada Bambang Sudrajat, yang elestarikannya sampai sekarang.
Ciri khas aliran Goning, menurut H. Nizam, salah satu murid Cingkrik Goning, adalah menggunakan satu kaki sebagai tendangan pamungkas. "Tangan digunakan untuk meladeni serangan lawan," katanya. Begitu lawan jatuh, diselesaikan dengan tendangan kaki.
Selain itu, Cingkrik Goning sangat mengandalkan kecepatan. "Tidak ada hitungan gerakan lambat seperti di aliran lain," katanya. Begitu menerima serangan, dalam hitungan detik harus dilakukan balasan dan braak, lawan sudah harus jatuh ke tanah.
Teknik bantingan menjadi kelebihan lain dari aliran silat Goning. Dihitung-hitung ada sekitar 80 teknik bantingan yang bisa dikuasai jika ditekuni hingga tingkatan tertinggi.
Sebagai anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Cingkrik Goning mengaplikasi sistem tingkatan. Mulai dari awal belajar sampai mendapat abuk merah, memakan waktu maksimal 7 tahun. Selama itu murid hanya diajari teknik jurus untuk menerima serangan. Setelah itu, baru belajar teknik bantingan secara berpasangan yang disebut "Sambut".
Pada tingkatan terakhir barulah diajarkan teknik serangan yang disebut "jual-beli". Pada level ini murid diajarkan menyerang dan melakukan balasan terhadap serangan balik lawan. "Jadi kita yang menyerang, kita yang menang," kata Bambang.
Selain di Bekasi, pusat latihan Cingkrik Goning ada di Padepokan Pencak Silat Indonesia di Pondok Gede. Mereka berlatih tiap Sabtu sore. Dua bulan lalu, kabar mengejutkan datang dari Belanda. Seorang Indonesia bernama Herry Masfar, yang sekarang tinggal di Amsterdam, mengaku pernah belajar Cingkrik Goning.
Masfar mengaku belajar Cingkrik Goning dari guru silat bernama Rochimin, yang mungkin adalah murid Engkong di daerah Kebon Jeruk sekitar 1950-an. Sejak 1960-an, Masfar tinggal di Amsterdam dan mulai mengajarkan ilmu silatnya, termasuk kepada pasukan marinir di pusat pendidikan marinir Belanda di Den Helder.
Rencananya, Desember ini, mereka akan datang untuk belajar dari sumber asli Cingkrik Goning di Indonesia. Kalau marinir Belanda tertarik belajar ilmu silat ini, mengapa kita tidak? Sumber: AMAL IHSAN - TEMPO